Belief of belief

Ah, sudah lama sekali saya ga nulis disini. Ada dua faktor besar kenapa mencurahkan pikiran ke blog ini bisa terhenti. Pertama adalah magang. Terhitung akhir Januari kemaren sampai akhir April adalah periode magang saya di McCann Erickson. It’s a great company. They really care about internship, a super cool intern one. Karena kantor McCann di Indonesia cuman ada di Jakarta jadi yah selama magang saya tinggal di Jakarta. Perpindahan tempat hidup juga berarti perpindahan fasilitas. Perpindahan fasilitas juga berarti aksesibilitas terhadap internet. Memang, di kantor internetnya kenceng gila. Tapi kapan pernah niat ngeblog siang siang? Sementara kalo malem, internet lebih sulit dicapai karena saya numpang di rumah teman yang luar biasa baik dan tidak mau disebut namanya. Jadinya magang mematikan niat buat ngeblog.

Alasan kedua adalah twitter! Social media kurang ajar satu ini emang menyita perhatian sama sekali. Kalo lagi ga ada kerjaan , bener bener yang dilakukan adalah cek twitter. Memang sih banyak gunanya buat tau what has been happening. Cuman di sisi lain, trigger utama buat ngeblog itu kan kalo ada ide yang perlu dikeluarkan tapi ga ada penyaluran makanya ditulis di blog! Tapi ini bisa dirangkum dalam 140 karakter dan tinggal ditweet. Memang ada beberapa pemikiran yang terlalu jenius untuk dituang di twitter. Makanya saya ngeblog hari ini! Make sense?

Jadi ada yang pengen saya tulis sini. Bermula dari update twitter (tuh kan twitter lagi! emang udah mendarah daging sih ini) dari seorang teman. Dia bilang, “apa kalo kita lahir di Amerika kita bakal jadi kristiani, kalo lahir di India jadi hindu dan kalo lahir di China jadi konghucu?” Ini menarik. Hal pertama yang sampe di pikiran adalah, apakah saya menjadi muslim semata mata karena saya lahir di negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia sehingga probabilitas saya jadi seorang muslim lebih besar daripada jadi seorang kristiani, atau agama lain? Jika saya yakini kalo agama Islam benar, misalnya saya lahir di Amerika dan menjadi kristiani, apakah saya masuk neraka semata mata karena saya lahir di sesuatu negara tertentu? Bukan salah saya dong saya lahir di negara mana. Saya ga pernah minta tuh buat lahir di Amerika.

Setelah itu akan timbul bantahan, pada dasarnya setiap orang perlu mencari kebenaran atas kepercayaannya masing masing. Tapi bakal ada pertanyaan, itu kan tergantung tingkat intelejensia seseorang juga? Bagaimana kalo dia tidak cukup pintar untuk membanding keimanan yang satu dengan yang lain. Misalkan konsep agama terlalu berat buat otaknya? Sementara kita tahu kalo Tuhan memang ga membagi tingkat intelejensia manusia sama rata. Apa dia jadi masuk neraka kalo agama default yang dia ambil adalah agama yang salah sementara dia tidak mampu untuk memikirkan mana agama yang menurut dia benar?

Itu kalo soal tingkat intelejensia dari manusia. Bagaimana kalo ternyata tidak banyak orang yang sadar kalo dia perlu mencari kebeneran agamanya sendiri? Mereka hidup seperti kebanyakan orang: sekolah-kerja-pensiun-meninggal. Mereka ga pernah kepikiran tentang apakah agama default yang mereka anut adalah benar? Apakah mereka jadi masuk neraka karena mereka sibuk mengurusi hidup mereka yang pas pasan dan bekerja keras demi memenuhi suap nasi anak istri? Apa salah mereka juga kalo mereka ga dapat pendidikan agama yang memadai? Apa salah mereka kalo mereka memang hidup di dunia yang orang orangnya menganggap agama adalah prioritas ke delapan belas dan mereka ga tahu itu salah?

Apakah seseorang menjadi salah ketika dia bahkan tidak tahu dia salah sampai akhir hayat? Saya pernah mendengar dari ajaran di agama saya kalo orang ga tau (sesuatu adalah salah) maka ga apa apa. Jadi misalnya saya disodorin makanan dan ternyata itu mengandung babi, kemudian saya tidak pernah tau telah memakan itu maka saya jadi tidak salah. Kalo begitu, orang orang yang tidak pernah tau seperti apa agama yang benar sampai akhir hayatnya, berarti dia adalah salah?

Tapi bisa jadi at least semua orang pernah denger tentang agama agama besar di dunia. Itu menjadi salah mereka sendiri ketika mereka tidak tergerak untuk mencari kebenaran di masing masing agama itu. Sementara setiap agama punya metode penyebarannya sendiri. Paling ga, pernahlah sekali seumur hidup seseorang mendengar tentang suatu agama yang benar (atau memang itu adalah agama defaultnya). Nah ketika dia tidak mengambil kesempatan untuk mencari informasi lebih banyak tentang agama yang benar maka dia salah.

Apa kabar suku suku pendalaman afrika? Mereka yang lahir di hutan afrika, makan, hidup dan mati disana juga. Mereka terisolasi dalam kebudayaan mereka sendiri. Mereka ga tau planet kita bulat, kita punya 7 benua  5 samudera, perang dunia, isu global warming, google dan twitter. Baju rumbai rumbai dan panah beracun sudah cukup buat mereka. Apakah mereka juga masuk neraka karena mereka ga merantau ke kota untuk cari update tentang agama agama terkini daripada ajaran nenek moyang mereka?

Oke kalo gitu gimana kalo setiap believer stays di agamanya masing masing aja. Biar ga ada pemikiran kaya di atas. Nikmatin aja ajaran yang udah dibawa dari lahir. Doain aja itu adalah agama yang bener bener diridhoi Tuhan. Apa pun yang terjadi nanti setelah kematian jadi tanggung jawab masing masing. Terima saja. Ga usah ada konversi-konversi agama apalagi perang atas nama agama. Kita hidup atas dasar siapa anak siapa yang beragama apa dan lahir dimana.

~ by Marketing Blog on May 31, 2010.

2 Responses to “Belief of belief”

  1. Fad, mengenai orang Afrika dan suku-suku pedalaman yang ngga dapet pendidikan, entah juga ya Fad bakal masuk neraka apa ngga. tapi gw rasa gw percaya bahwa Tuhan itu maha bijaksana dan maha adil. jadi apapun itu nanti keputusan-Nya, udah yang paling bener.

    oh iya, setiap agama pasti yakin bahwa agamanya bener dan mereka yakin bahwa yang akan masuk surga adalah hanya kaumnya. jadi ya, santinos aja. agama ku agama ku, agama mu ya agama mu.

    PS: maaf kalo ada salah-salah kata🙂

  2. Setubuh,fad. Maaf komen sy quote dr twitter,memang jejaring candu itu situs satu,well still,at least it aint facebook :p lol RT @ratunida: Jadikan keragaman agama utk kompetisi berbuat kebajikan&menampilkan kebenaran,bukan utk saling memfitnah atau menghancurkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: